Buah Pemikiran yang Dianak Tirikan
Penulis resensi : Rida Afrilyasanti )*
Buku : Penelitian Naratif dalam Linguistik Terapan: Resonansi untuk Transformasi.
Penulis : Yazid Basthomi
Penerbit : Penerbit Bintang Sejahtera, Malang.
Tahun terbit : 2012.
Tebal : 155 halaman.
Ukuran : 16 x 24,2 cm
Menanggapi lemahnya pemahaman dan variasi metode penelitian yang digunakan di lingkup peneliti Indonesia, Basthomi mencoba menyajikan sebuah pemahaman baru mengenai alternatif metode penelitian. Dengan mengutip beberapa ulasan dari Schnee (2009), Lapadat (2004), Gordon (2009), Norton and Early (2011) mengenai penelitian naratif, dan juga pengalaman menulisnya dengan menggunakan metode penelitian ini, Basthomi mencoba meyakinkan pembaca akan signifikansi dari penelitian naratif.
Pemahaman yang ada di masyarakat kita (bahkan di lingkup akademika sekalipun), naratif merupakan bentuk cerita (buah pikiran penulis) yang jauh dari data kuantitatif yang diyakini memiliki kualitas keabsahan dan kevalidan. Buku Basthomi ini dapat dikatakan melawan arus karena sebagaimana yang kita ketahui, saat ini dengan adanya UU dan PP baru mengenai kenaikan pangkat guru dan dosen, para pelaku akademika tersebut dituntut untuk lebih banyak menulis, dan bentuk penulisan yang dihargai sebagai bentuk penelitian yang valid adalah penelitian tindakan kelas (PTK).
Berbeda dengan permintaan pasar terhadap buku-buku yang menyajikan pemahaman mengenai bentuk penelitian tindakan kelas, Basthomi mencoba meyakinkan adanya bentuk penelitian lain yang selama ini tidak dianggap sebagai sebuah penelitian, hanya dianggap sebagai sebuah kajian pustaka. (X.11)
Menjawab isu terhadap kevalidan dan keabsahan data dari penelitian naratif, di halaman 124 Basthomi menjelaskan bahwa kevalidan data penelitian naratif diperoleh dari konsep-konsep objektif melalui pendekatan-pemdekatan subjektif. Penjelasan ini memang kurang memberikan gambaran detail mengenai apa yang dimaksudkan oleh penulis (terutama bagi para peneliti pemula). Namun dengan disajikannya beberapa contoh penelitian naratif, pembaca mendapat gambaran jelas mengenai bentuk penyajian data yang dimaksud.
Bagian yang dirasa paling mendasar, yang merupakan core utama dari buku ini adalah bab 10, dimana Basthomi menarik benang merah dari semua contoh-contoh penelitian naratif yang disajikan di bab-bab sebelumnya dan menuangkan ide kritisnya terhadap kebijakan baru bentuk tulisan ilmiah yang selama ini diterima (diakui) di lingkup akademik serta bagaimana penelitian naratif hanya mendapat posisi sebagai sebuah kajian pustaka. Dalam bab ini pula penulis memberikan pemahaman lebih jauh mengenai isu objektifitas dan subjektifitas dalam penelitian-penelitian naratif.
Hal lain yang menarik dari buku ini adalah ide penulis untuk menyadarkan pembaca (terutama kalangan akademika) akan pentingnya penelitian naratif sebagai sebuah refleksi pendidikan, khususnya dalam lingkup kegiatan belajar mengajar guru. Dalam konteks linguistik serta proses pengajarannya, penelitian naratif mampu menyajikan data yang lebih detail sehingga mampu mengungkapkan sisi-sisi proses pengajaran yang selama ini mungkin tidak tersentuh dalam pengolahan data penelitian menggunakan metode penelitian yang lain dan tidak diasumsikan dalam hipotesa awal penelitian.
Hal yang kurang dari penulisan buku ini adalah bahwa penulis mengganggap semua pembaca buku adalah mereka yang telah tahu banyak mengenai bentuk dan metode penelitian dan atau sering terlibat dalam penelitian, sehingga buku ini lebih banyak menyajikan refleksi yang diberikan oleh penulis terhadap contoh-contoh penelitian naratif serta pemikiran kritis penulis mengenai posisi penelitian naratif dalam konteks akademis di Indonesia. Penulis memang telah menjelaskan di awal (dan dijelaskan lagi di bagian akhir buku) bahwa buku ini bukan merupakan sebuah buku pedoman penulisan penelitian naratif, namun lebih merupakan buah pemikiran yang ditujukan untuk membantu pembaca menjadi lebih kritis dalam melihat metode-metode penelitian yang ada serta posisi metode penelitian tersebut dalam konteks akademis di Indonesia.
Peresensi adalah Rida Afrilyasanti, seorang guru bahasa Inggris, peneliti dan penulis dalam jurnal-jurnal pendidikan nasional maupun internasional.